Home / Berita / Ahok, Doyan Dangdut, dan Buku tentang Bung Karno

Ahok, Doyan Dangdut, dan Buku tentang Bung Karno

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok merintis hari-harinya di ruang tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Ia divonis dua tahun dalam perkara penistaan agama.

Mendekam di balik jeruji besi, Ahok disibukkan bersama dengan berbagai kegiatan, menjadi dari ibadah, membaca, olah raga, dan menulis refleksi anggapan dirinya. Dia terhitung sering menulis balasan surat warga.

Di tengah itu semua, Selasa (24/10/2017) siang, Ahok dijenguk 10 penulis #KamiAhok, buku yang berisi testimoni atau cerita mengenai kepribadian Ahok dari para penulis yang terdiri dari sebagian profesi, menjadi dari dokter, jurnalis, sejarawan, dosen, sampai ahli kelautan.

Salah seorang penjenguk, Ignatius Haryanto, menceritakan bagaimana situasi pertemuan tersebut. Ahok , kata Haryanto, menerima mereka bersama dengan santai.

Hari, panggilan akrab Haryanto, melukiskan sosok Ahok keluar bersemangat walau ruang geraknya pas ini mesti dibatasi. Dalam pertemuan, kata dosen jurnalisme di Universitas Media Nusantara (UMN) itu, mantan Bupati Belitung Timur itu banyak bercerita mengenai kesehariannya di tahanan.

Berikut catatan lengkap mengenai pertemuan Ahok bersama dengan 10 penulis yang diunggah di akun Facebook Ignatius Haryanto:

SEBUAH SELASA SIANG BERSAMA BTP

24 Oktober 2017, pukul 13.10

“Oh menjadi ini rombongan para penulis itu ya? Gua sudah baca tuh buku (sembari menunjuk buku #KamiAhok yang hendak dimintakan isyarat tangannya – IH), tetapi saat ini gua sudah lupa terhitung isinya… he he he” Begitu kata-kata pertama yang keluar dari sosok lelaki bertubuh tinggi, bersama dengan kulit kuning kemerahan. Wajahnya kelihatan bahagia menerima kehadiran 10 orang penulis di hadapannya. Siang itu ia memakai kemeja bermotif titik hitam yang ia gulung sampai ke siku tangan.

Sepuluh penulis ini adalah kombinasi dari para penulis dari berbagai profesi: tersedia yang dokter, wartawan, ahli kelautan, dosen, sejarawan, ahli agama, dan penulis novel. Sembilan dari sepuluh penulis memakai atasan putih, cocok kesepakatan awal di dalam sebuah kelompok WhatsApps. Kalau yang satu kostumnya beda, kalau di tim bola, itu bermakna dia kiper.

Kacamata bergagang abu-abu melekat di matanya. “Ini hari ke-168 gua tersedia di sini, dan selama itu gua sudah abis baca 18 buku. Ada yang sedeng tebelnya, tetapi tersedia terhitung yang sampe 400-an halaman. Pokoknya gua manfaatin banget dah pas di sini untuk bisa baca.” Demikian kata lelaki kelahiran Belitung Timur, 29 Juni 1966 itu.

Itulah sosok Ahok, atau Basuki Tjahaja Purnama, mantan gubernur DKI yang sejak selesai pilkada DKI lalu, menjadi penghuni di tahanan Markas Komando Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok ini. Tak tersedia kata-kata mengeluh keluar dari mulutnya. Ia yang mendominasi pembicaraan, dan ia banyak bicara mengenai apa saja yang ia laksanakan selama ia menghabiskan pas dari hari ke hari dalam tahanan.

“Tau ga, gua ini sudah kayak Batman Returns gitu. Tiap hari gua sit up dalam goa sampe seratusan kali. Makanya gua hari ini pake kemeja, kebanyakan gua pake kaos aja, tetapi gua pengin ngecek aja, ini kemeja tetap muat apa engga? Kan gua saat ini sudah lebih berisi lah … Ha ha ha ..”

Karena dia jelas tengah berhadapan bersama dengan para penulis yang hari itu kompak memakai busana putih (kecuali si ahli agama) maka pembicaraan Ahok hari itu berkisar soal buku yang ia baca.

“Tapi di sini gua terhitung nyaris khatam baca Al Quran lohhh… Gua kan SD serupa SMP di sekolah Islam, menjadi gua inget-inget dikit lah… “

Al Quran yang tersedia di tangannya adalah pemberian dari seorang ibu. Cetakannya bagus, hurufnya bagus dan Ahok memuji-muji Al Quran sebab hiasannya yang indah. “Nah gua baca terhitung tuh Al Maida, bagus isinya … “ Tapi tiba-tiba tersedia yang nyeletuk di antara penulis, “Ati-ati pak, 1 pasal Al Maida aja sudah kena dua tahun.. gimana kalau satu kitab?” Tawa pun berderai-derai membahana.

Soal buku lain, Ahok terhitung mengisahkan, dia seperti dikejar-kejar untuk menghabiskan bacaannya. Kadang kalau dia bosan, dia bisa ubah ke buku lain, padahal buku di awalnya belum habis dibaca. “Yah gua tandain aja, tetap gua membuka buku lain…” Saya pun nyeletuk, “Wah Pak Ahok keluar dari sini menjadi master dongg…” Dia ketawa aja … “Wah banyak banget buku yang tersedia di kamar gua itu…” kata mantan bagian DPR dari Golkar dan Gerindra itu.

Saya pun sempat bertanya, “Pak di kelompok WA tersedia banyak beredar tuh katanya lagu yang bapak membuat lirik lagunya….” Belum selesai saya rampungkan kalimat, Ahok segera motong, “Boro-boro membuat lagu, nyanyi aja gua fales, gimana sudi membuat lagu. Di sini nih selera gua diakui kampungan banget. Gua sukanya lagu dangdut, di sini diketawain, sebab di sini muternya lagu jazz, macem Louis Amstrong gitu… Jadi kagak mungkin gua membuat lirik lagu segala.” (Nah kan terkonfirmasi ya… itu bukan lirik bikinan Ahok lohhh…)

Ahok terhitung bercerita bagaimana dia terhibur sekali membaca buku Guntur Soekarnoputra berjudul Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku. Buku ini pertama kali terbit tahun 1977 dan tahun 2007 buku tersebut dicetak ulang. Ahok berkomentar begini, “Buku itu lucu dan Bung Karno menjadi sangat kelihatan humanisnya, dan walau dia presiden, membuat Guntur, dia tetap seorang bapak dan seorang teman…

Sudah masuk bulan kelima Ahok duduki tahanan di Mako Brimob, Ahok mengaku bahwa dirinya sangat studi tetap budaya Jawa untuk sabar, pasrah, jaga omongan dan lain-lain. Dia laksanakan itu sebab banyak pihak lain yang menurutnya, misalnya tak laksanakan yang semestinya, ya dia mesti tahan diri.

Beberapa kali Ahok bercerita bahwa sekeluarnya dari Mako Brimob ini dia sudi sebabkan suatu acara yang diberi judul “Ahok Show”… “Elu semua saat ini denger omongan gua gratis, nanti kalau sudah nontonnya di Ahok Show, satu orang mesti bayar 2 juta ya ….” Tawanya pun kembali berderai dan disambut para tetamu bersama dengan lebih membahana lagi.

“Gua kan di sini terhitung baca nih soal buku pariwisata, petualangan, dan tersedia buku yang gua baca mengenai kota-kota yang mesti dikunjungin. Jadi kalau gua membuat Ahok Show di luar negeri, nanti Ahok Show-nya di hari pertama, tetap besoknya gua sudi pergi ke museum seni terdekat, besoknya kembali seharian gua sudi pergi ke Taman Nasional di sana. Gua sudah mikir nih, gua bisa nih muter keliling Amerika misalnya, keliling Australia, serupa keliling Eropa. Di sana kan tersedia banyak temen-teman kita…”

Soal bahasa, Ahok bercerita kalau dia tengah studi bhs Mandarin via Spotify. “Jadi gua boleh dikasih hape tetapi ga untuk telepon, tetapi gua pake untuk Spotify gitu, nah gua cari pelajaran bhs Mandarin. Enak loh…. murah lagi… sebulan cuma bayar berapa lah tuhh…” Jadi gua punya target, sebelum makan siang, gua mesti bisa nulis sebagian kata bhs Mandarin.

Berhubung di tahanan banyak pas kosong, Ahok pun mendisiplinkan dirinya untuk menulis. Ia mengaku menulis semacam renungan rohani, terkadang renungan politik, dan sampai tadi pagi ia sudah menulis sampai 162 halaman A4. Mungkin sekali tulis tangan, sebab tak boleh bawa laptop ke dalam tahanan.

Di antara tetamu tersedia seorang penulis Barat yang kebetulan ikut rombongan, dia adalah sejarawan Peter Carey, lulusan dari Trinity College, Oxford University, UK. Ahok tadinya sudah bertanya-tanya dalam hati, dan sepertinya dia mengetahui wajah itu, tetapi tidak ngeh sampai sesudah itu seorang teman memperkenalkannya terhadap Ahok.

Ahok segera berkata, “Wah ini Pak Peter Carey ya… Saya sudah baca bukunya soal Pangeran Diponegoro. Sudah sampai bab 3, dan itu tulisan bagus sekali, bahkan dilengkapi bersama dengan ilustrasi lukisan-lukisan lama dari berbagai koleksi museum di Eropa. Bagus sekali Pak Peter… Saya bahagia bertemu anda.”

Ahok dan Peter Carey pun bertukar isyarat tangan. Sementara itu ajudan di belakang sudah menjadi resah. Waktu yang dialokasikan 30 menit sudah lama lewat, dan rombongan lain pun tetap menunggu di luar.

Suami dari Veronica Tan ini mengaku bahwa tiap hari ia bangun jam 4 pagi, selanjutnya ikut olahraga, selanjutnya sesudah jam 7 ia menjadi membaca, menulis dan lain-lain. Dan malam hari ia tidur jam 22.00. “Kalau agak capek, siang gua bahagia tidur, tetapi banyakannya sih engga…” Gua di sini banyak belajar: studi melayani, studi sabar, latihan fisik, baca dan nulis…

Banyak orang terhadap nanya ke gua, apa nanti gua dapat balik ke p

 

olitik kembali apa engga?“Gua ada problem kalau jawab pertanyaan begitu. Biasanya yang nanya gitu, gua kasih cerita soal Sun Tzhu. Dalam dialog Sun Tzhu serupa seorang bangsawan. Bangsawan tadi tanya, apakah saya mesti mengabdi terhadap pemerintah? Sun Tzhu cuma menjawab, keinginan itu mestinya datang dari keinginan untuk mengabdi bagi negara, terhadap pemerintah”. (Nah kejawab kan?)

Dan ia menutup pembicaraan tadi bersama dengan kata-kata begini: “Integritas itu bisa dibuang, tetapi tak bisa dicuri…” Kalimat bersayap ini entah kepada siapa ia tujukan. Yang tentu siang itu pertemuan sangat berkesan bagi sepuluh orang penulis, dan mudah-mudahan untuk Ahok juga, sebab dia begitu excited bertemu bersama dengan sejarawan asal Inggris yang dulu menyebutnya “ujung tombak pemberantasan korupsi di Indonesia”. Jam pun memperlihatkan pas 13.50 untuk lokasi Mako Brimob Kelapa Dua, Depok saat sepuluh penulis berbaju putih keluar dari kompleks daerah pria bernama Basuki Tjahaja Purnama itu ditahan (*)

About asiagol

Check Also

Prediksi Burnley vs Manchester City – 3 Februari 2018

Burnley, SunduL – Tim tuan tempat tinggal dipastikan akan sukar untuk kembali bangkit ke jalur ...